Pasar

Pada awalnya adalah spontanitas. Tahun 1934, sekelompok petani di Los Angeles menggelar dagangan di bak truk mereka di sudut jalan antara Fairfax dan Third. Para pembeli berkerumun di lahan tanah yang dipetak-petak dengan garis yang dibikin dari kapur.

Berpuluh tahun kemudian, tempat itu menjadi sangat sibuk dan nama Farmers Market pun kian melambung. Para petani tidak lagi berdagang dengan modal truk, namun mereka punya toko dan kedai; sementara pengunjung juga tidak lagi harus berbecek-becek di atas tanah karena tempat itu kini sudah berlantai paving block dan aspal, di sana disediakan juga tempat parkir yang luas buat mobil mereka.

(bersambung)

‘Perjodohan’ Tak Direncana bersama XL

lomba-review-xl-berhadiah-modem1
Cerita tentang ‘perjodohan’ saya dengan operator seluler XL sebetulnya terjadi secara tak sengaja. Tapi dari ketidaksengajaan itu, saya kemudian merasa betah dan eh malah sudah tak mau pindah ke lain hati.

Awalnya sedikit mundur ke tahun 2006-an, saat saya masih di tinggal dan bekerja Yogyakarta. Karena istri saya tinggal di Purwokerto, maka saya harus menyiasati jarak itu dengan mencari provider seluler yang menawarkan tarif telepon (dan SMS) yang murah dan sekaligus dapat diandalkan.

Sebelumnya, sejak saat pertama mempunyai ponsel, saya beberapa kali berganti-ganti provider seluler. Sejak tahun 2002, saya kemudian menetapkan pilihan pada provider ‘merah’ yang saya anggap mempunyai benefit terbanyak buat saya.

Tapi seperti sudah dijelaskan sebelumnya, persoalan kebutuhan komunikasi yang intensif dengan orang-orang tercinta, saya pun mencoba memakai provider XL. Pada awalnya, saya tertarik dengan promo tarif telepon Rp 1 per detik. Benar, bukan Rp 0,1 per detik, tapi Rp 1 per detik, jauuuuhhh sebelum ada tarif Rp 0,1 per detik.

Nah, singkat kata, saya akhirnya membeli juga perdana XL. Lumayan murah, cuma Rp 12.500 (kalo nggak salah inget) dan dapat nomor 10 digit. Nomornya nggak cantik sih, tapi 10 digit gitu loh. Oya, di seberang sana, istri saya juga akhirnya beralih ke XL (ya iyalah, masa dia tetap pake operator ‘merah’?)

Cerita punya cerita, akhirnya saya mulai lebih sering memakai nomor XL saya ketimbang nomor yang ‘merah’ itu. Apalagi, mulai awal 2008, saya pindah kerja (eh, masih di kantor yang sama sih) ke Jakarta. ‘Mitos’ bahwa XL terkenal kuat di kota besar ternyata bukan omong kosong. Saya benar-benar dimanjakan oleh ketangguhan jaringan XL.

Keadaan itu bertahan hingga sekarang. Saya tetap memakai nomor XL saya sebagai nomor utama saya dan meminggirkan nomor ‘merah’ itu jadi nomor kedua (dengan pemakaian nyaris nol, tinggal sayang sama nomornya saja sih. hehehe). Setiap kali meninggalkan nomor telepon ke kenalan baru, saya selalu memberikan nomor XL saya ini.

Nah, selama memakai XL itu, boleh dibilang tingkat kepuasan saya mencapai di atas 80 persen. Kualitas layanan XL di bidang voice cukup mantap. Di saat operator ‘kuning’ yang punya promo tarif murah sama (Rp 0,1 per detik) mendapat banyak keluhan akibat saluran yang susah nyambung, atau ketika nyambung pun putus sendiri di bawah lima menit, maka layanan sambungan telepon antar XL ini sangat stabil.

Setiap hari, setidaknya saya memakai telepon dengan durasi 4-20 menit dan tidak pernah merasakan ada masalah. Biaya yang terpakai relatif murah, apalagi kalau saya menelpon pagi hari sebelum jam 11 pagi. Praktis, untuk ngobrol hingga berbuih-buih seperti itu, saya cuma membayar XL dengan uang Rp 300. Lebih murah daripada sebungkus snack Momogi :p.

Keandalan voice yang saya dapatkan dari XL sangat membantu dalam menunjang pekerjaan saya sebagai wartawan yang seringkali harus aktif berhubungan dengan banyak orang; baik itu dengan rekan-rekan di kantor atau pun dengan pihak-pihak lain yang terkait.

Demikian juga dengan layanan SMS-nya. Sangat jarang, nyaris tidak pernah, saya mengalami masalah seperti SMS yang pending tanpa alasan atau bahkan tidak terkirim sama sekali. Lagipula, dengan murahnya tarif telepon XL, saya semakin mengurangi pemakaian SMS, bahkan untuk menghubungi nomor di luar XL sekalipun.

Kualitas layanan ini ternyata bisa dipertahankan oleh XL ketika saya harus pergi ke luar negeri. Beberapa bulan lalu, saya ke Malaysia dan karena waktu kunjungan yang cuma dua hari, maka saya memutuskan untuk tidak membeli nomor lokal dan memilih untuk roaming bersama XL. Memang sih tarifnya tidak murah (padahal kan XL anak perusahaan Axiata yang punya Malaysia ya? :d), tapi dalam hal layanan voice dan SMS tidak ada masalah.

Sementara untuk layanan internetnya, terus terang saya tidak pernah memanfaatkannya secara pribadi. Tapi setahu saya, kantor detik.com di Yogyakarta memanfaatkan koneksi internet XL dan layanananya cukup bisa diandalkan.

Demikianlah, dari ketidaksengajaan, akhirnya saya kini terus setia bersama layanan XL dan tidak berniat untuk pindah ke lain hati.

(Posting ini dibuat untuk mengikuti Lomba Review Berhadiah Modem yang diadakan XL dan CahAndong.org)

Olympus WS-321M dari Alnect Computer

olympus

Sebagai seorang wartawan, saya sering kali harus mewawancarai narasumber. Di dunia media online, kecepatan dan akurasi menduduki dua prioritas tertinggi dalam setiap penulisan berita.

Dalam situasi yang relatif ‘biasa’, artinya ketika narasumber tidak sedang terburu-buru, atau ketika pewawancaranya tidak terlalu banyak, mencatat ucapan narasumber dengan memakai blocknote biasa sudah mencukupi.

Namun situasi yang saya hadapi tidak selalu menyenangkan. Kadang ada narasumber yang tergesa-gesa atau narasumber yang dikerubuti puluhan jurnalis, atau seorang narasumber asing yang bicara dengan bahasa Inggris (lebih parah lagi kalau bahasa Inggrisnya kacau dan susah dimengerti).

Pada situasi seperti disebutkan di atas, saya akan sangat membutuhkan digital voice recorder. Setelah mencari informasi sana-sini, sepertinya saya tertarik dengan produk digital voice recorder Olympus WS-321M yang saya temukan di toko online Alnect Computer ini.

Memori berukuran 1 gigabyte flash yang ditanam di Olympus WS-321M membuatnya akan sanggup menampung rekaman suara yang relatif panjang. Artinya, saya tidak harus sering-sering menghapus isi file di dalam recorder ini untuk memberi ruang bagi rekaman baru.

Konektivitas USB 2.0 membuat transfer data dari recorder ke PC akan sangat mudah berkat kecepatan data yang ditawarkan. Dan meski rekamannya berformat Windows Media Audio (WMA), saya tidak akan kesulitan untuk mendengarkan ulang karena saya sudah menginstall VLC Media Player di PC berbasis Ubuntu saya.

Tapi bicara soal kecepatan, barangkali saya akan sering-sering mendengarkan rekaman tanpa sempat menransfernya ke PC terlebih dahulu. Tapi itu juga tak masalah karena saya bisa mendengarkannya melalui speaker berukuran 18 mm yang tertanam di dalamnya atau memakai earphone dengan jack 3,5 mm yang handy.

Olympus WS-321M hanya membutuhkan satu buat batere AAA Alkaline atau AAA Ni-MH yang bisa dicharge ulang. Dengan cuma menggendong satu batere AAA di tubuhnya, wajar bila berat Olympus WS-321M hanya sekitar 47 gram. Dengan dimensi kurang dari 10×4 cm dan tebal kurang dari 1 cm, ukuran Olympus WS-321M terbilang sangat mudah untuk dibawa-bawah atau dikantongi.

Dengan banderol harga 1,985 juta rupiah, saya pikir harga Olympus WS-321M tidak terlalu mahal bila dibanding dengan kemampuan yang ia miliki. Anggap saja ini investasi untuk mendukung produktivitas saya.

Alnect computer Blog Contest

Jalan-jalan ke Kuala Lumpur

(warning: postingan narsis, ndeso dan tidak layak dibaca kaum terpelajar. ada beberapa foto najis yang sebaiknya didisable aja)

Setelah sekian lama cuma kerja di dalam negeri, pekan lalu akhirnya saya dapat kesempatan ke luar negeri. Nggak jauh sih, cuma ke Malaysia. Itu pun cuma dua hari satu malem. Tapi tetep aja, sebagai wong ndeso, acara jalan-jalan (plus kerja dikit) ke Kuala Lumpur ini bikin seneng.

Diundang sama salah satu brand oli ternama, saya sudah harus dateng ke Bandara Soekarno Hatta hari Selasa (9/6) pagi uput-uput jam 3. Soalnya ntar ada briefing dulu dari pengundang buat tiga wartawan. Dua rekan wartawan yang terbang bareng adalah Mas Adi dari Kompas sama Mas Haryo dari BOLA.

Kami bertiga numpang pesawat Malaysia Airlines yang terbang jam 5.05 pagi WIB. Pas liat pesawatnya dan liat interiornya, menurut saya pesawat MAS ini buluk. Ngga jauh sama pesawatnya Sriwijaya, kalah bagus sama Lion, apalagi Garuda. :))

Interior pesawat 737 400 ini norak. Kursinya ada yg dibungkus kain warna biru, ada yang merah, ada yang ijo. Ruang buat dengkul saya juga kurang lega. Kalau Garuda, ruang dengkul buat kaki saya yang panjang nyaman banget.

Sampe di Kuala Lumpur, saya yang ndeso kagum liat KLIA yang canggih. Beda banget sama CGK yang kotor dan sumpek. KLIA rapi, bersih dan modern. Sayup-sayup terdengar suara announcer yang bicara empat bahasa: Melayu, Inggris, Cina dan India.

Kami lalu dijemput sama Mas Ginung (dari pengundang) dan naik taksi buat menuju KL. Jarak KLIA ke KL katanya sekitar 1 jam, nggak jauh beda dari Soetta ke tengah kota Jakarta. Di tengah lebuh raya (jalan tol), kok ada motor? Pas saya tanya ke Mas Adi, katanya emang Malaysia mengizinkan roda dua masuk jalan tol. Oooo (gumun).

Di KL, kami nginep di Le Meridien. Hotel bintang lima yang lokasinya bener-bener di tengah kota. Posisinya ada di depan Stesen KL Central, stasiun pusat dari moda transportasi kereta seperti kereta api, LRT, MRT dan Monorail. Wah, bakalan enak nih buat klayapan nantinya, gitu pikir saya.

Di Le Meridien, saya dapat kamar di lantai 13. Cihuy banget deh pokoknya. View ke jalanan KL bisa dinikmati sambil berendam di bathtub. Ini kayaknya hotel termewah yang pernah saya inapi. Hahahaha. Tapi wifi buat internet ngga ada di kamar (ada sih, tapi kena charge). Adanya cuma di lobi.

Cuma sempat bersih-bersih sebentar, kami sudah harus cabut dari hotel buat ketemu sama tujuan utama kunjungan ini: Arsene Wenger. Kami naik bis besar bareng sama wartawan dari Vietnam yang jumlahnya 30 orang menuju venue, Dataran Merdeka.

kl4

Sampai di Dataran Merdeka, kami ketemu Wenger. Meliput kegiatannya dia dan wawancara sama orang Prancis yang jadi manajer di Arsenal. Bagian wawancaranya skip aja deh, baca aja di detiksport. Hehehe.

kl2

kl3

Kelar dari acara sama Wenger, lima orang Indonesia ini cabut ke KLCC. KLCC ini ternyata mall mewah yang berada di kompleks Petronas Twin Towers. Biar makin keliatan ndeso, maka saya foto-foto di depan landmark kebanggaan KL itu. Mayan buat oleh-oleh anak istri di rumah.

kl1

Dari KLCC, kami pulang ke hotel buat istirahat. Supir taksinya bilang KL memang macet banget kalau pas jam pulang kerja. Menurut saya sih, ini bukan macet. Cuma rame biasa. Coba tengok di Jakarta, Pak Cik!

Setelah mandi, istirahat (dan ngirim berita ke kantor), malamnya kami jalan-jalan. Tadinya kami mau ke Bukit Bintang, tapi akhirnya batal dan taksi akhirnya membawa kami ke Jalan Petaling. Tempat ini semacam pasar malam, yang jual kebanyakan orang Cina.

Selesai belanja-belanja buat oleh-oleh (dan beberapa buat sendiri juga), kami makan di McDonalds karena udah hampir tengah malem dan udah susah nyari rumah makan buka kecuali McD yang 24 jam. Agak ngitung-ngitung, kayaknya harga McD di KL sedikit lebih murah dari McD Jakarta. Hummm. Yang bikin kaget, ada orang minta-minta masuk ke McD. Wah wah, kalo di Jakarta udah diusir satpam duluan tuh orang.

Pulang ke hotel, tidur (eh, udah ngirim berita lagi ke Jakarta belom? wakakaka), trus paginya breakfast di hotel aja. Berhubung masih di Asia Tenggara dan di negara muslim, nyaris semua makanan di situ halal.

Bubar breakfast, mandi, trus kemas-kemas, jam 12 waktu Malaysia kami bertiga udah siap di lobi buat berangkat ke KLIA untuk terbang pulang ke Jakarta. Kali ini, kami milih naik KLIA Express dari KL Central.

Di sinilah saya sempat panas dingin. Udah masuk ke KL Central, saya meriksa paspor di saku kecil tas ransel saya. Duh, nggak ada! Saya panik. Trus saya telpon ke hotel buat nanya. Hotel bilang kamar belum sempat dibersihkan jadi saya diminta telpon 10 menit lagi.

Daripada nunggu dan nelpon, saya milih lari aja ke hotel yang emang pas di depan stasiun. Saya sama sekuriti masuk ke kamar 1371 dan ngga nemuin paspornya! Dengkul saya lemes dan udah kebayang keribetan susahnya ngurus paspor dan gimana caranya pulang ke Jakarta. (Tiba-tiba merasa bersalah gara-gara ngetawain temen yang paspornya ilang di Barcelona :d)

Meski ngga nemu paspor, saya malah nemuin amplop yang isinya duit perjalanan dari kantor. Wahahaha. Jumlahnya lumayan, ada sekian dolar sama sekian rupiah. Kabarn baiknya, saya lalu ditelpon sama temen yang nunggu di stasiun, bilang katanya paspor saya ada di tas kecil. Oh my God, saya bener-bener pikun! Alhamdulillah akhirnya ngga harus kesulitan gara-gara paspor ilang.

Kami berempat akhirnya naik KLIA Express sampe ke KLIA. Keretanya nyaman dan cuma butuh 28 menit buat sampe KLIA. Di sepanjang jalan, ngeliat Malaysia yang rural, beda sama KL yang penuh dengan bangunan beton.

Di KLIA, sehabis makan kami nyari oleh-oleh (ampuuuun Bung, sorry akhirnya beli oleh-oleh di airport. hahahaha). Nyari oleh-olehnya sampe harus nyebrang ke terminal sebelah, jadi kami harus naik air train yang menghubungkan antar terminal.

Selesai dengan beli oleh-oleh, akhirnya kami boarding ke pesawat MAS lagi. Pesawatnya sama persis dengan yang kami terbangi dari Jakarta ke KL. Tapi meski pesawatnya jelek, servisnya MAS bisa dibilang top lah. Makanannya juga enak-enak (plus es krim Haagen Dazs).

Mendarat di Jakarta, saya lagi-lagi nyaris kelupaan sama paspor yang saya taruh di saku kursi depan. Hahahaha. Keluar dari pintu terminal dua, bau basah tanah sehabis hujan menyergap saya seolah menyambut kami pulang.

Jejaring Facebook

nexusgraph

Inilah bentuk grafis dari jejaring teman saya di Facebook. Penjelasannya, yang berada di kanan bawah adalah kelompok teman-teman dari dunia maya (kebanyakan blogger); yang kiri bawah adalah dari teman-teman kantor dan teman-teman seprofesi; yang kiri atas adalah teman-teman kuliah; sedangkan yang kanan atas adalah teman-teman SMA (dan beberapa teman SMP).

Yang kanan bawah terlihat paling padat karena mungkin mereka merupakan kelompok yang sangat aware terhadap teknologi dunia maya dan sangat eksis di Facebook. Berurutan ke bawah dalam hal kepadatan adalah kelompok teman kerja, teman kuliah dan terakhir teman sekolah.

Beberapa teman juga sudah membuat grafik serupa. Inilah di antaranya:

Gunawan Rudy

Dina Utami

Standar Baru detiksport

Bukan, ini bukan tentang standar pemberitaan. Ini tentang standar kado perkawinan yang baru yang telah dibikin sama anak-anak detiksport. Hehehehe.

Jadi ceritanya, Minggu kemaren wakil redaktur detiksport, Doni, kawin. Dengan beriring selamat (terutama sih atas insyafnya orientasi dia. hahahaha), tentu saja sebagai kawan satu desk yang baik kami juga memberikan sesuatu dong.

Nah, ide awalnya adalah memberikan sebuah hadiah yang unik dan berkesan. Yang bakal membuat Doni ingat terus sama kawan-kawan se-desknya, dan kalau bisa sesuatu yang membuat dia terikat terus sampek ngga mungkin resign. Hahahaha.

Maka jadilah kami ngado sepasang tiket pesawat Jakarta-Jogja PP plus hotel selama dua hari dua malam. Credit buat bos Andi yang nanggung hotelnya sama nalangin beli tiket online. Hihihihi.

Maka jadilah ini sebuah standar baru di detiksport. Kalau nanti ada anggota tim yang kawin, maka seharusnya kado buat dia ga jauh beda lah sama kado buat Doni. Hehehehe.

Buat Doni, selamat menempuh hidup baru, semoga perkawinannya sakinah mawadah warahmah. Buat yang belum kawin, semoga cepet nyusul yak.

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!